• Home
  • Berita Turnamen
  • Novak Djokovic Menghentikan Jannik Sinner di Australian Open: Mahakarya Pengalaman dan Ketangguhan

Novak Djokovic menampilkan salah satu performa paling luar biasa di Australian Open 2026 dengan menyingkirkan Jannik Sinner dalam semifinal lima set yang dramatis: 3–6, 6–3, 4–6, 6–4, 6–4. Kemenangan ini mengakhiri rekor tak terkalahkan Sinner di Australia dan mengantar Djokovic ke final Grand Slam berikutnya — sebuah bukti nyata tentang umur panjang karier, kemampuan beradaptasi, dan kebesaran kompetitifnya.

Hasil ini terasa semakin istimewa jika melihat konteks perjalanan Djokovic di turnamen ini.


Jalan Unik Menuju Semifinal

Sebelum menghadapi Sinner, Djokovic bahkan belum menyelesaikan satu set penuh di pekan kedua Australian Open. Di babak keempat, Jakub Mensik mundur sebelum pertandingan dimulai, sementara Lorenzo Musetti menyerah di perempat final saat sudah unggul dua set tanpa balas.

Namun melawan Sinner, tidak ada jalan pintas.

Djokovic belum pernah mengalahkan petenis Italia itu sejak 2023 dan kalah lima kali berturut-turut, termasuk semua pertemuan sejak Australian Open 2024. Menjelang usia 39 tahun, Djokovic masuk semifinal sebagai underdog — setidaknya di atas kertas.

Namun pola pikirnya sangat jelas. Beberapa hari sebelumnya, Djokovic mengatakan:

“Jika secara fisik tidak ada masalah dan saya bermain dengan baik, saya selalu punya peluang. Ini semifinal Grand Slam — kepercayaan diri dan motivasi saya tinggi. Tanpa itu semua, tidak ada alasan untuk bertanding.”

Ia juga menolak anggapan bahwa ia harus mengalah pada generasi baru:

“Apakah Sinner dan Alcaraz bermain di level yang luar biasa? Ya. Apakah itu berarti saya masuk lapangan dengan bendera putih? Tidak. Saya akan bertarung sampai poin terakhir.”

Dan itulah yang ia lakukan di Melbourne.


Faktor Taktis Kunci di Balik Kemenangan Djokovic

1. Servis Elit di Momen Krusial

Servis Djokovic tampil luar biasa, terutama saat menghadapi break point. Ia menyelamatkan 16 dari 18 break point, sering kali dengan first serve yang sangat presisi. Ace datar ke tengah (T) menjadi senjata andalannya di saat genting.

2. Second Serve yang Lebih Agresif

Djokovic juga meningkatkan kecepatan second serve menjadi rata-rata 162 km/jam, jauh di atas rata-rata turnamennya yang berada di angka 156 km/jam. Penyesuaian ini membuat Sinner kesulitan menyerang return.

Dua momen penting:

  • Saat servis untuk memenangkan set kedua, Djokovic membuka gim dengan double fault, tetapi tetap konsisten menggunakan second serve agresif.
  • Pada skor 4–3 di set kelima, Sinner gagal memanfaatkan break point karena kembali ditekan oleh second serve Djokovic.

3. Agresivitas dari Baseline

Alih-alih hanya bertahan, Djokovic bermain sangat agresif dari baseline, terutama lewat forehand yang lebih datar dan berat. Pukulan ini memaksa Sinner terus memukul dari posisi yang tidak nyaman.

4. Memaksa Pukulan Tanpa Keseimbangan

Djokovic terus menggerakkan Sinner secara lateral di baseline, memaksanya memukul dari posisi ekstrem. Dampaknya:

  • Membuka ruang untuk menyerang ke lapangan kosong.
  • Mengganggu stabilitas backhand silang Sinner yang biasanya sangat konsisten.

5. Mengeksploitasi Perubahan Arah

Djokovic beberapa kali menangkap Sinner dalam posisi salah langkah (wrong-footed). Bahkan ketika Sinner masih mampu menjangkau bola, ketidakseimbangan tubuh sering berujung pada kesalahan.

6. Ketangguhan Mental dan Defensif

Pada skor 1–2 di set kelima, Djokovic lolos dari situasi 15–40 dengan backhand spektakuler down the line, disusul forehand winner yang sama beraninya. Momen-momen inilah yang menentukan arah pertandingan.

7. Kondisi Fisik yang Setara

Meski sempat terlihat memegang dada di set ketiga, tidak ada penurunan signifikan pada pergerakan atau stamina Djokovic. Dalam reli panjang, ia mampu mengimbangi Sinner sepenuhnya.

Sebuah reli krusial pada skor 3–3 di set kelima, yang akhirnya dimenangkan Djokovic, menjadi titik balik menuju break penentu.

8. Kesalahan Tidak Biasa dari Sinner

Di bawah tekanan konstan, Sinner melakukan sejumlah kesalahan mahal yang jarang terjadi, termasuk:

  • Return meleset pada second serve yang relatif mudah di skor 2–1 set kelima
  • Dua kesalahan beruntun di skor 3–3, 40–40, serta backhand keluar pada break point di skor 4–3

9. Tekanan Return Meski Sinner Servis Baik

Sinner mencatat rekor pribadi jumlah ace dalam satu pertandingan, namun setiap kali persentase first serve-nya turun, Djokovic langsung mengambil alih dengan tekanan return yang konsisten.

10. Lebih dari Sekadar Statistik

Kesulitan yang dialami Sinner tidak mengurangi kualitas permainan Djokovic. Ini bukan sekadar soal kesalahan lawan, melainkan demonstrasi kejelasan taktik, keberanian kompetitif, dan eksekusi level juara.


Berikutnya: Preview Final Australian Open

Dengan kemenangan ini, Djokovic melaju ke final Grand Slam ke-38 sepanjang kariernya dan final Australian Open ke-11, semakin mempertegas rekor sepanjang masa. Lawannya adalah Carlos Alcaraz, yang untuk pertama kalinya akan tampil di final Australian Open.

Djokovic saat ini unggul tipis 5–4 dalam rekor pertemuan langsung mereka.

Final akan digelar pada 1 Februari, dengan waktu mulai 15:30 WIB (Waktu Indonesia Barat).

Gambaran Pasar Prediksi (Konteks)

  • Alcaraz menang di final: 1.33
  • Djokovic menang: 3.60
  • Total game di atas 36,5: 1.74
  • Pertandingan lima set: 3.65

Apakah Djokovic mampu menentang prediksi dan meraih gelar Grand Slam ke-25 dalam kariernya menjadi pertanyaan besar terakhir di turnamen ini.

Related posts